Lomba Bakiak
29
Desember 2014. Ini adalah hari ketiga Gudep Patt-Dien (Gugus depan
Pattimura-Cut Nyak Dien) berada di Panji Camp, perkemahan yang diadakan SMAN 1
Singkawang. Ika dan Wanti terlihat panik karena peserta untuk mengikuti lomba bakiak timnya masih kurang dua orang.
"Kamu
ya ...!" ajak Ika pada Rapidah sambil menenteng dua papan bakiak.
"Hah,
aku? Tidak! Mana bisa aku main bakiak!"
"Yahhh,
ayo lah! Masih kurang dua orang nih," bujuk Wanti yang berdiri di belakang
Ika.
"Aduh,
aku kan ga bisa mainnya. Lagipula lapangan buat mainnya becek tuh! Nanti kita
kotor!" jawab Rapidah menolak.
"Hih,
masa anak pramuka takut kotor! Apa gunanya ada detergen, Pidah!!!" Ika
dengan muka kesal langsung menarik tangan Wanti ke tenda sebelah, tempat
penyimpanan barang.
***
"Kenapa
sih, nyangkring di depan tenda ngomel-ngomel?" tanya Yusnita pada Ika yang
duduk di atas papan bakiak bersama Wanti.
"Itu
tuh, Rapidah. Masa diajak ikut lomba bakiak ga
mau. Takut kotor lah apa lah!!!" Ika merengut kesal.
"Hah,
lomba bakiak? Aku ikut!" teriak Yusnita.
"Wih,
oke. Berarti kurang satu," kata Ika dengan tangan kiri di pinggang dan
telunjuk kanan di bibir, seolah-olah sedang berfikir.
"Weiii ... aku!" teriak Eni dari belakang tenda.
"Weiii ... aku!" teriak Eni dari belakang tenda.
***
Ika,
Wanti, Yusnita dan Eni berjalan menuju lapangan menggunakan bakiak.
"Ka,
papan kita kayaknya kepanjangan deh, coba lihat tuh!" seru Wanti menunjuk
peserta lain yang kesulitan melewati palang-palang rintangan.
"Iya
... kita harus nyari gergaji nih!"
"Nyari
di mana? Kita kan ga bawa, Ka!" jawab Yusnita.
"Hish,
kan bisa pinjem. Tuh!" tunjuk Ika ke arah peserta berbaju biru-putih yang
duduk di samping lapangan. Dipinjamnya gergaji lalu mereka pun menggesek papan
bakiak hingga lebih pendek beberapa senti.
Beberapa
menit setelah itu, giliran mereka yang akan bermain. Wanti di posisi depan,
disusul Eni, Ika, dan Yusnita.
"Kaki
kanan dulu ya," ucap Wanti.
"Siaaap!"
teriak yang lain serentak.
Priiitt
peluit tanda permainan dimulai pun berbunyi.
"Satu
dua tiga! Kanan, kiri! Kanan, kiri!" Wanti mengaba-aba-i teman-temannya
melangkah ke depan. Crekkk crekkk ... air berlumpur yang terpijak bakiak
muncrat mengenai pakaian olahraga yang mereka kenakan.
"Aduh
... susah! Ayo putar!" teriak Wanti.
Merasa
kesulitan, mereka mengubah arah dan mendekatkan kaki kiri mereka untuk melewati
palang.
"Satu
... dua ... tiga ... angkat!" teriaknya.
"Sekali
lagi, satu ... dua ... tiga ... angkat!"
Dengan
kekompakan, mereka berhasil melewati dua palang rintangan sebelum tiba di titik
finish.
"Ih,
kalian kotor!" ejek Ika ke Wanti, Yusnita, dan Eni.
"Apa
gunanya ada deterjen!!!" sahut Wanti mengulang kata-kata Ika.
Ika
terdiam sejenak,
"Heh!
itu kan kata-kataku!!!" ucap Ika membuat yang lain tertawa serentak.