Minggu, 13 September 2015




Lomba Bakiak

29 Desember 2014. Ini adalah hari ketiga Gudep Patt-Dien (Gugus depan Pattimura-Cut Nyak Dien) berada di Panji Camp, perkemahan yang diadakan SMAN 1 Singkawang. Ika dan Wanti terlihat panik karena peserta untuk mengikuti lomba bakiak timnya masih kurang dua orang.
"Kamu ya ...!" ajak Ika pada Rapidah sambil menenteng dua papan bakiak.
"Hah, aku? Tidak! Mana bisa aku main bakiak!"
"Yahhh, ayo lah! Masih kurang dua orang nih," bujuk Wanti yang berdiri di belakang Ika.
"Aduh, aku kan ga bisa mainnya. Lagipula lapangan buat mainnya becek tuh! Nanti kita kotor!" jawab Rapidah menolak.
"Hih, masa anak pramuka takut kotor! Apa gunanya ada detergen, Pidah!!!" Ika dengan muka kesal langsung menarik tangan Wanti ke tenda sebelah, tempat penyimpanan barang.
***
"Kenapa sih, nyangkring di depan tenda ngomel-ngomel?" tanya Yusnita pada Ika yang duduk di atas papan bakiak bersama Wanti.
"Itu tuh, Rapidah. Masa diajak ikut lomba bakiak ga mau. Takut kotor lah apa lah!!!" Ika merengut kesal.
"Hah, lomba bakiak? Aku ikut!" teriak Yusnita.
"Wih, oke. Berarti kurang satu," kata Ika dengan tangan kiri di pinggang dan telunjuk kanan di bibir, seolah-olah sedang berfikir.
"Weiii ... aku!" teriak Eni dari belakang tenda.
***
Ika, Wanti, Yusnita dan Eni berjalan menuju lapangan menggunakan bakiak.
"Ka, papan kita kayaknya kepanjangan deh, coba lihat tuh!" seru Wanti menunjuk peserta lain yang kesulitan melewati palang-palang rintangan.
"Iya ... kita harus nyari gergaji nih!"
"Nyari di mana? Kita kan ga bawa, Ka!" jawab Yusnita.
"Hish, kan bisa pinjem. Tuh!" tunjuk Ika ke arah peserta berbaju biru-putih yang duduk di samping lapangan. Dipinjamnya gergaji lalu mereka pun menggesek papan bakiak hingga lebih pendek beberapa senti.
Beberapa menit setelah itu, giliran mereka yang akan bermain. Wanti di posisi depan, disusul Eni, Ika, dan Yusnita.
"Kaki kanan dulu ya," ucap Wanti.
"Siaaap!" teriak yang lain serentak.
Priiitt peluit tanda permainan dimulai pun berbunyi.
"Satu dua tiga! Kanan, kiri! Kanan, kiri!" Wanti mengaba-aba-i teman-temannya melangkah ke depan. Crekkk crekkk ... air berlumpur yang terpijak bakiak muncrat mengenai pakaian olahraga yang mereka kenakan.
"Aduh ... susah! Ayo putar!" teriak Wanti.
Merasa kesulitan, mereka mengubah arah dan mendekatkan kaki kiri mereka untuk melewati palang.
"Satu ... dua ... tiga ... angkat!" teriaknya.
"Sekali lagi, satu ... dua ... tiga ... angkat!"
Dengan kekompakan, mereka berhasil melewati dua palang rintangan sebelum tiba di titik finish.
"Ih, kalian kotor!" ejek Ika ke Wanti, Yusnita, dan Eni.
"Apa gunanya ada deterjen!!!" sahut Wanti mengulang kata-kata Ika.
Ika terdiam sejenak,
"Heh! itu kan kata-kataku!!!" ucap Ika membuat yang lain tertawa serentak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar